Jumat, 24 Februari 2012

My Partner (Retni SB)

Diposkan oleh Viktoria Mardhika di 5:24 PM
Sinopsis:

Sudah jatuh, ketimpa tangga, ketumpahan cat, kepeleset, terjungkal masuk sumur, lecet benjol, berdarah-darah, kemudian dicaplok buaya nganga. Begitulah perumpamaan kisah hidup Tita sekarang. Jungkir balik, berantakan secara mengerikan.

Ini bukan mimpi! Papanya dianggap koruptor, jadi tumbal dan masuk penjara. Efeknya? Mama harus dirawat karena depresi, adik mogok sekolah, pacar menghilang, sahabat menjauh, dan ujung-ujungnya, semua aset keluarga disita guna membayar ganti rugi negara. Seperti belum cukup, dia masih harus berhadapan dengan Dido: cowok keren berkedok dewa yang nyaris melahapnya!

Ini bukan sinetron! Karenanya Tita tak sampai banjir air mata hingga ratusan episode. Dia harus tetap berdiri tegak untuk melanjutkan hidup. Dia harus bisa tertawa cerah bagai mercusuar di gelap kehidupan keluarganya. Apalagi akhirnya dia tahu, ada seseorang yang tak membiarkannya sendirian tergulung badai. Seseorang yang tanpa disadarinya, selama ini telah menjaganya.



* * *

"Di lapas ada Pak Ujang—petugas jaga—yang mau membantunya bertemu Papa sebentar saja, walau bukan jam besuk. Tentu untuk itu dia harus menyelipkan selembar uang dan sebungkus rokok. Huh, dia jadi tukang suap sekarang. Memang begitu aturan mainnya." (hlm.178)


Retni SB membawa kita kepada realita kehidupan politik Indonesia sekarang. Korupsi dimana-mana. Suap yang tak mengenal waktu dan tempat. Dan ironisnya, juga dipaparkan dengan jelas bagaimana tidak adilnya hukum di negara ini. Tak ada kejelasan hukum. Satu orang menjadi tumbal untuk beberapa pihak lain yang masih berkeliaran di luar sana. Uang benar-benar membutakan mereka.

Yang kena imbas adalah Tita, gadis lulusan Arsitektur yang hidupnya bagaikan tersambar petir. Papanya divonis hukum penjara 6 tahun dan harus mengganti rugi 110 milyar (yang sebenarnya bukan papanya yang mengkorup, tapi apa daya hukum yang tak adil). Belum lagi bayaran ini-itu yang tak bisa diabaikan.

Sekali lagi, ini bukan sinetron. Tita tidak bisa terus-terusan tenggelam dalam kesedihan. Tita menghadapi segalanya dengan lapang dada, walaupun ia sedih dan dalam hatinya berteriak protes meminta keadilan.


“...Keluarganya tak boleh ludes dalam kehancuran. Harus ada yang tetap berdiri di tengah badai, meski hal itu akan membuatnya menggigil dan terluka. Dia ingin belajar menjadi mercusuar. Tak terlalu terang pun tak apa, yang penting bisa sedikit menyinari.” (hlm.32)


Tapi ada dua sahabat yang selalu mendampingi Tita, Butet dan Sani. Butet dengan pembawaannya yang ceria dan glasak-glusuk, dan Sani yang tenang. Hidup Tita sedikit lebih baik. Apalagi, Jodik, arsitek berwajah preman dan dingin yang merenovasi rumahnya, menawarkannya pekerjaan: merancang sebuah galeri.

“Lagian, kata orang bijak, Tuhan kan nggak akan ngasih cobaan melebihi kemampuan kita. Jadi ya, jangan takut.” (hlm.60)

Ketika seluruh aset keluarganya harus diambil, termasuk ATM-nya diblokir, itu berarti kantongnya akan semakin menipis. Sementara, segala macam tagihan harus dibayarnya. Maka Tita membutuhkan pekerjaan yang ‘lebih’. Bekerja bersama Jodik tidak akan membantunya.

Kemudian, Dido, anak direktur utama, atasan papanya, menawarkan sebuah pekerjaan sebagai arsitek di kantor bergengsi miliknya. Tita butuh uang. Sikap ramah dan ceria Dido yang berlawanan dengan Jodik yang galak dan bermulut pedas, membuatnya yakin untuk berhenti bekerja Jodik dan pindah. Walaupun Dido anak atasan Papa yang telah menjerumuskan papanya.

Hmm... Lalu, akankah Tita bertahan menghadapi segala cobaan? Juga, menghadapi perlakuan manis Dido? Bagaimana pula ketika ancaman dari kantor Dido datang, yang membuatnya akhirnya membuka mata? Baca kisahnya di My Partner~


* * *


Uh, begitu selesai, jatuh cinta pada karakter Jodik! Tidak seperti kebanyakan novel yang tokoh prianya (mendekati) sempurna dan too good to be true, Retni SB justru membawa kita kepada karakter Jodik yang layaknya preman, urakan, lugas dan bermulut pedas, hobi senyum sinis, dingin, wuah pokoknya berantakan—menurut deskripsi Tita. Uh, but somehow, love the dialogues between him and Tita!

Nggak seperti kebanyakan metropop lainnya juga, novel ini minim adegan kontak fisik. Cukup pegangan tangan dan pelukan. Tapi memang inilah yang sesuai, tidak berlebihan dan memaksa supaya terlihat intim.

Selain itu, tak hanya Tita yang digambarkan memiliki beban hidup. Ada Sani dan Butet, sahabatnya, juga punya masalah yang tak bisa dibilang ringan juga. Bersama-sama, mereka saling menguatkan. Satu lagi poin plus untuk novel ini.

Alur mengalir begitu saja, typo nggak banyak, tak mengganggu kenyamanan saya dengan penulisannya. Saya merasa gaya penulisan Mbak Retni berubah. Jadi makin bagus tentunya, kalau dibandingkan dengan karya-karyanya sebelumnya. Dari segi amanat pun, di novel ini tersirat makna yang bisa kita ambil.

"Papa tahu ni nggak mudah. Tapi seenggaknya, kamu harus memenangkan kehidupanmu sendiri, Ta. Papa harap kamu nggak tenggelam dalam kesedihan. Papa ingin kamu bangkit. Kamu harus mengejar cita-citamu." (hlm.51)

“Aku jadi kembali fokus pada apa yang sebenarnya kuinginkan dan kuprioritaskan. Kamu.” (hlm.257)



My Rating:




Judul             :    My Partner
Pengarang    :    Retni SB
Penerbit        :    Gramedia Pustaka Utama
Tebal             :    288 halaman
ISBN              :    978-979-22-8017-3



Regards,

0 komentar:

 

Writings From A Reader Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare